Oleh : Vicky
Bekasi, 12 Agustus 2026
Ironi Negeri Ini — Guru Disuruh Sarjana, Tapi Dewan Bisa Cukup Lulus SMA
Sungguh sangat ironis, sangat memalukan. Di satu sisi, para guru dituntut: harus sarjana, harus lulus sertifikasi, terus diperbarui kurikulumnya, terus diuji kemampuannya. Syaratnya semakin tinggi, standarnya semakin ketat. Tetapi di sisi lain — di tempat yang menentukan nasib seluruh bangsa — di parlemen, di dewan perwakilan — syaratnya cukup lulus SMA. Bahkan artis, tokoh populer, siapa pun yang dikenal wajahnya bisa duduk di sana tanpa harus membuktikan apa yang pernah ia bangun bagi negeri ini.
Makanya bangsa besar Indonesia ini tidak pernah benar-benar maju. Hanya pintar berbicara, pintar membuat program dan proyek di atas kertas — tetapi juga pintar untuk korupsi, pintar untuk melakukan hal-hal yang justru menghancurkan bangsa ini dari dalam. Program berganti program, janji bertambah janji — tetapi yang tumbuh bukan kemajuan, yang tumbuh adalah kebohongan dan penderitaan rakyat yang makin lama makin dalam.
Pertanyaannya sederhana dan keras: apa kontribusi mereka? Apa karya nyata yang sudah mereka hasilkan sebelum duduk di kursi kekuasaan? Dan setelah duduk — apa kemajuan yang mereka bawa? Nyatanya tidak ada. Hanya bicara, hanya sidang, hanya perdebatan — tetapi rakyat semakin lama semakin tertinggal.
Mari kita lihat bangsa-bangsa yang benar-benar mau maju — bahkan bangsa yang kecil saja jauh lebih serius daripada kita:
– 🇮🇱 Lihatlah Israel — bangsa yang kecil, tanahnya sempit, sumber dayanya terbatas. Tetapi di parlemen mereka, di Knesset-nya — tidak ada yang namanya artis duduk di kursi kekuasaan hanya karena dikenal wajahnya. Tidak ada yang cukup hanya lulus SMA. Hampir seluruh anggotanya adalah orang dengan gelar akademis yang tinggi, pendidikan yang mendalam, dan sudah membuktikan kontribusi nyata sebelum duduk menentukan nasib bangsanya. Mereka dipilih karena pemikirannya, karena ilmunya, karena tanggung jawabnya — dan dari sanalah lahir kekuatan, teknologi, dan kemajuan yang diakui seluruh dunia.
– 🇸🇬 Di Singapura — hampir seluruh anggota parlemennya adalah lulusan universitas ternama, banyak di antaranya bergelar hingga doktor. Mereka dipilih bukan karena namanya dikenal atau suaranya merdu — tetapi karena pemikirannya teruji, ilmunya nyata, dan mampu memberikan solusi. Di sana jabatan bukan tempat orang belajar, tetapi tempat orang yang sudah siap dan mampu.
– 🇲🇾 Di Malaysia — standarnya sangat tinggi. Mereka yang duduk di parlemen mayoritas berpendidikan tinggi, banyak yang ahli di bidangnya masing-masing: ekonomi, hukum, pendidikan, teknologi. Mereka berdebat membawa ilmu, bukan sekadar membawa perasaan.
– 🇺🇸 Di Amerika Serikat — hampir seluruh anggota Kongres adalah sarjana, dan sebagian besar memiliki gelar lanjutan. Memang tidak tertulis di undang-undang harus demikian, tetapi rakyatnya sadar: jika kita mempercayakan nasib bangsa kepada orang yang tidak pernah mendalami ilmu apa pun, maka nasib kita dipercayakan kepada kebetulan semata.
Seperti yang sering disampaikan pengamat sosial Rocky Gerung:
“Jangan heran kalau bangsa ini mundur pelan-pelan. Yang pintar dijadikan pengamat, yang populer dijadikan pemimpin. Kita dibodohi oleh sistem yang menurunkan standar untuk kursi tertinggi, tetapi menaikkan syarat untuk orang yang paling bawah. Kalau yang membuat kebijakan saja tidak pernah mendalami ilmunya, jangan harap kebijakannya bisa mencerdaskan rakyat.”
Beliau juga memperingatkan: “Kita tidak bisa maju kalau yang menentukan arah belum pernah sampai ke tempat yang seharusnya dituju. Kalau mereka cukup lulus SMA, lalu menyuruh rakyatnya bersekolah setinggi-tingginya — itu bukan kepemimpinan, itu kemunafikan.”
Sangat memalukan bagi rakyat, sangat memalukan di mata dunia.
Dunia bertanya-tanya: “Bagaimana mungkin negara ini mau maju, jika yang membuat rencana tidak pernah mendalami ilmunya sendiri? Bagaimana mungkin mereka menyuruh orang lain bersekolah tinggi, padahal mereka sendiri belum sampai ke sana?”
Inilah ketidakadilan yang paling besar:
Kita menuntut yang paling rendah dengan standar paling tinggi, tetapi memperlakukan yang paling tinggi dengan syarat yang paling rendah. Itu bukan demokrasi — itu keteledoran. Itu bukan keadilan — itu pembodohan yang disengaja.
Kalau guru harus S1 — wajar dan harus begitu. Tetapi jangan pernah lagi menyuruh orang lain naik ke puncak, sementara pemimpinnya sendiri tidak pernah mau mendaki tangga yang sama.
Israel, Singapura, Malaysia, Amerika — mereka maju bukan karena tanahnya luas. Mereka maju karena yang memegang kendali adalah orang-orang yang mendalami ilmunya, berpikirnya teruji, dan siap bertanggung jawab dengan pemahaman yang utuh.
Maka bangsa ini — Indonesia — hanya akan menjadi cerita, hanya catatan sejarah, jika selama ini tidak pernah mau membangun peradaban dengan benar. Selama yang duduk di kursi tertinggi bukan orang yang siap, selama syaratnya bisa diturunkan sesuka hati — maka yang ada hanyalah cerita tentang apa yang pernah diimpikan, tetapi tidak pernah diwujudkan.
Sudah saatnya kita berani mengubah hal itu:
✅ Dudukanlah orang-orang yang ahli, orang-orang yang terdidik, orang-orang yang sudah membuktikan karyanya di bidangnya masing-masing — seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain yang maju.
✅ Gantilah mereka yang hanya tamatan SMA, yang tidak memiliki keahlian khusus, yang tidak ada kontribusi nyata bagi bangsa ini sebelum duduk di kursi kekuasaan.
✅ Pelajarilah sistem bangsa lain: Israel, Singapura, Malaysia, Amerika — di mana yang memimpin adalah yang mengerti, yang mendalami, yang siap bertanggung jawab dengan ilmunya.
✅ Jangan lagi menempatkan orang hanya karena namanya dikenal atau wajahnya terlihat di layar — tetapi carilah mereka yang punya pemikiran, punya karya, dan punya arah yang jelas untuk membawa bangsa ini ke depan.
Karena negara tidak dibangun dengan suara. Negara dibangun dengan ilmu, dengan pemikiran, dan dengan kesiapan yang nyata.
