Nuansarealitanews.com, Kotawaringin Timur (Kalteng) – Komandan Kodim 1015/Sampit, Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, S.I.P., menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Penanggulangan Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Kekeringan Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2026. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Bupati Kotawaringin Timur ini berlangsung di Rumah Jabatan Bupati, Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 17, Sampit, Senin (24/8/2026).
Rakor ini digelar sebagai langkah strategis untuk meningkatkan operasional dan sinergitas seluruh unsur terkait dalam mengantisipasi ancaman Karhutla dan dampak kekeringan di wilayah Kotawaringin Timur. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati, Kasi Ops Korem 102/Pjg, Kabagops Polres Kotim, Pj. Sekda, jajaran kepala OPD, Kejaksaan Negeri, BPBD, unsur TNI AU dan TNI AL, BMKG, instansi vertikal, serta perwakilan pimpinan perusahaan swasta.
Dalam kesempatan tersebut, Dandim 1015/Sampit menegaskan bahwa penanganan Karhutla dan kekeringan membutuhkan perhatian serius serta kerja sama lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana tidak bergantung pada satu instansi semata, melainkan butuh komitmen kolektif.
“Pencegahan sejak dini harus menjadi fokus utama. Pemantauan di wilayah rawan perlu ditingkatkan agar setiap temuan titik api bisa segera direspons secara cepat sebelum meluas. Selain itu, dampak kekeringan bagi masyarakat, terutama krisis air bersih, harus kita antisipasi bersama,” ujar Letkol Inf Dwi Candra Setyawan.
Tantangan di Lapangan dan Langkah Terpadu
Penanganan Karhutla di Kotawaringin Timur masih dihadapkan pada sejumlah kendala teknis. Luasnya lahan gambut memicu proses pemadaman membutuhkan waktu lama dan pasokan air yang masif. Ketersediaan armada serta kelengkapan personel seperti selang, mobil tangki, embung portable, sumur bor dalam, hingga Alat Pelindung Diri (APD) menjadi perhatian mendesak untuk segera diperkuat.
Menjawab tantangan tersebut, penanggulangan bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur disepakati untuk dilakukan secara terpadu melalui skema berikut:
Deteksi & Peringatan Dini: Penguatan sistem pemantauan kualitas udara dan pemetaan wilayah rawan.
Aksi Cepat Lapangan: Intensifikasi patroli rutin serta pemadaman darat dan udara (water bombing).
Pengelolaan Sumber Air: Pembuatan embung portable dan penyiapan sumur bor di titik-titik krusial.
Bantuan Kemanusiaan: Distribusi air bersih secara berkala untuk warga yang terdampak kekeringan.
(Umar k)



















